Tuesday, January 23, 2018
MENULIS ITU GAMPANG: KIAT MENDAPATKAN IDE DALAM MENULIS
MENULIS ITU GAMPANG: KIAT MENDAPATKAN IDE DALAM MENULIS: Mendapatkan ide yang baik, unik, dan baru tidak semudah membalik telapak tangan. Dalam pengertian, ide tersebut harus dicari melalui berb...
KIAT MENDAPATKAN IDE DALAM MENULIS
Mendapatkan ide
yang baik, unik, dan baru tidak semudah membalik telapak tangan. Dalam
pengertian, ide tersebut harus dicari melalui berbagai macam cara, antara lain:
membaca buku; menikmati pemandangan alam; mengamati berbagai fenomena yang
terjadi di lingkungan sekitar, aktivitas individual dan sosial, perilaku dari
berbagai jenis hewan, pepohonan, pertunjukan dan benda-benda seni, dll; mendengarkan
orang-orang yang tengah bercerita, musik, lagu, dll; berdiskusi (bertukar
pendapat) dengan orang lain; melakukan perjalanan baik di dalam maupun di luar
negeri.
1.
Membaca Buku
Bagi setiap
calon penulis karya sastra memiliki suatu kewajiban untuk membaca buku baik
terbitan dalam maupun luar negeri. Dengan banyak membaca buku, calon penulis karya
sastra akan memiliki pengetahuan yang luas. Dengan pengetahuan yang luas, calon penulis karya
sastra akan memiliki banyak ide untuk dituang ke dalam karya-karyanya.
Hal yang tidak
bisa dilupakan oleh calon penulis karya sastra yakni membaca karya-karya dari
para sastrawan baik yang dipublikasikan di media massa cetak atau elektronik
maupun penerbit. Selain merangsang untuk mendapatkan ide, membaca karya dari
para sastrawan dapat memicu spirit untuk menulis karya yang lebih baik (bukan
mencontoh).
2.
Menikmati
Pemandangan
Untuk
mendapatkan ide brilian yang akan dituang ke dalam karya sastra tidak mudah
bagi calon penulis. Sebab itu, datanglah ke tempat-tempat dengan pemandangan
alam yang menakjubkan seperti pantai, tepian danau, atau tepian sungai, puncak
gunung, puncak bukit, taman, tepian bentangan sawah, dll. Tempat-tempat
tersebut memiliki potensi untuk merangsang pada setiap calon penulis di dalam mendapatkan ide.
Di tempat-tempat
dengan pemandangan alam yang menakjubkan pula terdapat peristiwa-peristiwa
puitik. Selain memberikan ide pada setiap calon penulis, peristiwa-peristiwa
puitik tersebut dapat memerkaya pengalaman puitik yang sangat berguna di dalam
menciptakan karya bergenre puisi.
3.
Melakukan
Pengamatan
Salah satu cara
untuk mendapatkan ide dapat ditempuh dengan mengamati berbagai fenomena yang
terjadi di lingkungan sekitar, aktivitas individual dan sosial, perilaku dari
berbagai jenis hewan, pepohonan, pertunjukan dan benda-benda seni, dll. Selain
ide, kerja pengamatan tersebut dapat memperkaya pengalaman batin serta memicu
permenungan filosofis, puitis, dan estetis yang dapat dijadikal bekal di dalam
menulis karya sastra, terutama puisi.
Kerja pengamatan
yang dilakukan oleh setiap calon penulis karya sastra dapat pula dimaknai
sebagai pengumpulan data. Sehingga di dalam penciptaan karya sastra (khususnya
cerita pendek atau novel), setiap calon penulis akan dapat melukiskan sesuatu
hal dengan tepat. Mengingat pelukisan tersebut sesuai dengan data, bukan
sekadar hasil dari imajinasi belaka.
4.
Mendengarkan
Orang Lain Bercerita
Sebagai calon
penulis sastra hendaklah menjadi pendengar yang baik ketika orang lain
berbicara atau bercerita. Dikarenakan melalui cerita yang disampaikan oleh orang
lain tersebut, kita akan mendapatkan ide. Melalui cerita tersebut, kita bisa
menjadikannya bahan untuk menulis cerita pendek atau novel.
Berdasarkan
pengalaman saya bahwa untuk mendapatkan cerita-cerita menarik dari orang lain
harus menjemput bola. Artinya, kita harus sering melakukan interaksi dengan
orang lain, terutama dengan orang-orang yang suka bercerita. Karenanya,
seringlah datang ke tempat-tempat ziarah yang dikunjungi banyak orang
bermasalah. Di sana, kita akan mendapatkan bahan cerita yang diluar dugaan
sangat menakjubkan dan layak untuk diabadikan ke dalam karya sastra, terutama cerita
pendek.
Selain cerita, musik dan lagu yang
kita dengar dapat memberikan ide untuk menulis karya sastra, terutama puisi. Pendapat
ini berdasarkan pengalaman saya sewaktu pertama kali menekuni bidang penulisan
puisi. Ketika menderngar musik klasik yang sangat inspiratif tersebut, saya
dapat menulis banyak puisi.
5. Berdiskusi dengan Orang Lain
Sungguhpun menulis
karya sastra adalah kerja individual, namun berdiskusi dengan orang lain sangat
diperlukan. Mengingat melalui diskusi, calon penulis karya sastra akan
mendapatkan ide yang tidak terduga. Bahkan melalui diskusi, calon penulis karya
sastra akan dapat mematangkan ide yang masih mentah untuk diangkat ke dalam
karya sastra.
6. Melakukan Perjalanan
Hal yang tidak
kalah efektifnya untuk mendapatkan ide yakni melakukan perjalanan baik di dalam
maupun luar negeri. Melalui perjalanan baik lewat darat, laut, maupun udara;
banyak ide yang diperoleh. Ide itu bukan hanya didapat dari sepanjang
perjalanan, namun dari cerita orang lain yang ada di dekat kita.
Karena banyak ide yang akan didapat
selama melakukan perjalanan, maka calon penulis karya sastra disarankan untuk
membawa alat tulis atau laptop. Catat ide-ide itu. Seusai melakukan perjalanan, olah dan matangkan ide-ide itu sebelum
dituang ke dalam karya sastra. [Sri Wintala Achmad]
Thursday, January 18, 2018
MENULIS ITU GAMPANG: KIAT JITU AGAR NASKAH NOVEL DITERBITKAN
MENULIS ITU GAMPANG: KIAT JITU AGAR NASKAH NOVEL DITERBITKAN: KIAT JITU AGAR NASKAH NOVEL DITERBITKAN Oleh Sri Wintala Achmad Semua novelis selalu berharap agar karyanya dapat diterbitkan ole...
KIAT JITU AGAR NASKAH NOVEL DITERBITKAN
KIAT JITU AGAR
NASKAH NOVEL DITERBITKAN
Oleh Sri Wintala
Achmad
Semua
novelis selalu berharap agar karyanya dapat diterbitkan oleh penerbit. Namun
harapan itu sangat kecil, bila novel yang diciptakan dan dikirimkan ke penerbit
tidak dapat diterbitkan karena unsur kualitasnya masih jauh dari standar.
Karenanya selain berusaha untuk dapat menulis novel berstandar kualitatif
tinggi dengan berdasarkan 10 cara di atas, hendaklah seorang novelis memiliki
kiat tersendiri agar karyanya dapat menembus salah satu penerbit. Berikut
adalah kiat jitu yang selayaknya dilakukan oleh novelis agar karyanya dapat
diloloskan oleh penerbit:
1.
Menyesuaikan
Selera Pasar
Biasanya kebanyakan novelis selalu
menyesuaikan selera pasar. Sebagai misal, manakala novel teenlit sedang
menguasai pasar buku, banyak novelis beramai-ramai mencipta novel teenlit.
Dengan harapan novel yang diciptakan itu dapat diterbitkan oleh penerbit.
Langkah untuk selalu menyesuaikan selera
pasar tidak salah, namun juga tidak bisa dikatakan benar. Mengingat banyak
karya novel yang tidak dikehendaki pasar, tiba-tiba menciptakan pasarnya
sendiri hingga mengalami ke-booming-annya.
Karena itu, seorang novelis tidak ada salahnya untuk mengimkan karyanya yang
berpeluang dapat menciptakan pasarnya sendiri dari penerbit satu ke penerbit
lainnya. Pengertian lain, seorang novelis harus berani mengirim karya itu ke
penerbit lain sesudah ditolak oleh penerbit sebelumnya. Hingga karya itu
berhasil diterbitkan oleh penerbit yang dengan jeli dapat menangkap ‘X Market
Factor’, yang tidak ditangkap oleh penerbit lain.
2.
Mengikuti aturan
penerbit
Sekalipun naskah novel yang dikirim ke
penerbit memenuhi standar kualitatif dan memenuhi selera pasar, namun kalau
melanggar aturan yang ditetapkan penerbit, maka peluang untuk diterbitkannya
sangat kecil. Karenanya sebelum mengirim novel, baca dulu aturan-aturan yang
ditetapkan oleh penerbit. Aturan-aturan tersebut mencakup: jumlah minimal
halaman, kata, atau karakter naskah; spasi; format penyimpanan naskah; dll.
3.
Menyertakan
Sinopsis dan Keunggulan Karya
Lampirkan pengiriman novel Anda dengan
sinopsis dan keunggulan karya. Tulislah sinopsis novel dengan baik serta
keunggulan karya yang memiliki prospek penjualan (selling point). Karena hal ini yang akan menjadi pertimbangan bagi
penerbit di dalam menentukan apakah karya Anda diterbitkan atau tidak.
4.
Naskah Novel
Ditulis dengan Rapi
Tulislah novel yang akan dikirim dengan
rapi. Disamping itu, naskah tersebut sudah Anda edit dan koreksi aksara dan
tanda bacanya berulang kali. Sekalipun tidak esensial, penulisan naskah yang
rapi dan sudah terhindar dari salah cetak aksara dalam kata dan tanda baca akan
membuat editor penerbit suka membaca dengan cermat atas naskah tersebut.
Sebelum editor memutuskan apakah naskah Anda layak atau tidak diterbitkan.
KIAT MENULIS NOVEL BEST SELLER
KIAT MENULIS NOVEL BEST SELLER
Oleh: Sri Wintala Achmad
Bagi
seorang calon novelis akan merasa kesulitan di dalam memulai menulis novel,
apabila tidak berani mencobanya. Sunggupun sudah berani mencoba namun tidak
mengetahui caranya, calon novelis akan merasa kerepotan di dalam menggarap
novel yang baik. Untuk itu, tips menulis novel yang baik bagi calon penulis
adalah sangat diperlukan. Berikut langkah-langkah di dalam menulis novel yang
dapat diterapkan oleh calon novelis:
1.
Menentukan Jenis
Novel
Langkah pertama yang harus diambil oleh
calon novelis adalah menentukan jenis novel. Anda dapat memilih salah satu
jenis novel, misal: novel teenlit yang lingkup pembacanya para remaja, novel
(fiksi) sejarah yang lingkup pembacanya masyarakat pecinta sejarah, novel
politik yang lingkup pembacanya dari kalangan praktisi dan pemerhati politik,
novel idealis yang lingkup pembacanya dari kalangan sastra murni, dll.
2.
Menentukan Tema
Langkah ke dua di dalam proses penulisan
novel adalah menentukan tema. Beberapa tema yang dapat dipilih, antara lain:
cinta dan romantika remaja, sejarah, filsafat, wayang, sosial, politik, dll.
3.
Membuat Sinopsis
Untuk mempermudah di dalam penulisan novel,
buatlah terlebih dahulu sinopsisnya. Karena sinopsis merupakan acuan dasar bagi
novelis yang ingin bercerita kepada pembaca melalui karya novel.
4.
Menentukan Tokoh
dan Karakternya
Tentukan nama tokoh-tokoh dan
karakternya. Pada tahapan ini, penulis juga menentukan status sosial, tingkat
intelektual, usia, dan jenis kelamin dari tokoh-tokoh tersebut. Hal ini sangat
penting di dalam membuat perbedaan bobot dialog antar tokoh dalam novel
tersebut.
5.
Dari Pengenalan,
Konflik, Puncak, dan Solusi
Secara garis besar di dalam menulis
novel, seorang penulis harus memasukkan keempat unsur, yakni: pengenalan,
konflik, puncak, dan solusi. Di bagian awal, penulis harus memperkenalkan
tokoh-tokohnya. Di bagian tengah, penulis harus menciptakan konflik antar tokoh
yan semakin lama semakin memuncak dan rumit. Di bagian akhir, penulis harus
menyelesaikan konflik tersebut secara cerdas.
6.
Melukiskan Latar
(Setting )
Lukiskan latar (setting) di awal setiap bagian novel. Hal ini akan membantu pembaca
di dalam berimajinasi terhadap peristiwa yang tengah terjadi di suatu tempat
tertentu, seperti: ruang tamu, taman, tepi sungai, di atas bukit, pantai, pulau
terpencil, dsb.
7.
Melukiskan Waktu
Lukiskan waktu, kapan suatu peristiwa
itu terjadi. Di dalam melukiskan waktu seorang novelis dapat menyebut secara
langsung, seperti: pagi, siang, senja, atau malam. Menyebut secara tidak
langsung, seperti: matahari setinggi tombak (pagi hari), matahari di puncak
ubun kepala (siang hari), matahari bersarang di balik bukit (senja hari), bintang-bintang
berkedipan (malam hari).
8.
Menjaga Alur
Tetap Runtut
Agar pembaca setia mengikuti kisah yang
Anda ceritakan lewat karya novel, jagalah alur cerita tetap runtut. Di samping
itu, buatlah pembaca untuk selalu penasaran tentang kelanjutan dan akhir kisah
yang Anda tuturkan lewat karya novel. Tanpa merasa penasaran terhadap
kelanjutan dan akhir kisahnya, maka pembaca akan meletakkan novel di atas meja
selama-lamanya. Tidak berminat membaca novel itu hingga tamat.
9.
Menyesuaikan
Bahasa dengan Tema
Gunakan bahasa yang sesuai dengan tema.
Misal: novel populer. Novel jenis ini seharusnya ditulis dengan bahasa renyah
dan tidak banyak memasukkan kata-kata simbolik atau kalimat-kalimat filosofis
yang sangat pelik. Sebaliknya, novel idealis. Novel jenis ini seharusnya
ditulis dengan bahasa sastrawi yang sarat dengan simbol, metafora, dan
ungkapan-ungkapan filosofis. Mengingat novel ini akan dibaca dari kalangan
masyaratkat kelas menengah dan masyarkat elite secara intelektual.
10.
Menggunakan
Tanda Apostrop
Gunakan tanda apostrop “…” pada setiap
kalimat dialog, seperti: “Siapa namamu?”; “Tak aku sangka, kau seorang
pecundang.”; “Pergi!”; dl.
11.
Mengakhiri Novel
dengan Ending yang Memikat
Novel yang baik adalah menarik di awal
(bagian pengenalan), di tengah (bagian konflik dan puncaknya), dan di akhir
(bagian solusi). Dengan demikian, ending
novel harus diberi bobot kualitas yang sama. Bobot ending yang berkualitas dan memikat bukan memberikan solusi atas
konflik secara langsung, melainkan secara tidak langsung. Hal ini dimaksudkan,
agar pembaca dapat menarik kesimpulan sendiri atas solusi tersebut melalui daya
imajinasi dan kontemplasinya.
12.
Memberikan Judul
yang Menarik
Berilah judul novel dengan semenarik
mungkin. Judul yang menarik adalah singkat dan merangsang pembaca untuk membaca
novel tersebut. Bila diibaratkan, judul serupa bagian eksterior rumah. Bila
bagian eksteriornya sudah tidak menarik, orang akan jengah untuk memasuki ruang
interior rumah itu. Pengertian lain, orang tidak akan tertarik membaca novel
tersebut. Sekalipun merupakan hal kecil, namun peran judul sangat penting di
dalam karya novel.
Wednesday, January 17, 2018
KIAT MEMUBLIKASIKAN CERPEN DI MEDIA MASSA
7 CIRI CERPEN BERPELUANG DIMUAT DI MEDIA MASSA
Oleh: Sri Wintala
Achmad
![]() |
| Sri Wintala Achmad |
Agar
karya cerpen memiliki peluang besar untuk dapat dimuat di media massa, maka
seorang penulis harus berpedoman pada langkah-langkah taktis sebagaimana
dijelaskan di bawah ini:
1.
Ditulis dengan
Rapi
Cerpen yang dikirim via email ke
redaktur sastra media massa harus ditulis dengan rapi. Sudah diedit dan
dikoreksi atas kesalahan penulisan aksara dalam setiap kata dan tanda baca.
Sebab sekalipun cerpen itu bagus, namun penulisannya masih acak-acakan serta
belum mendapatkan sentuhan editing
dan koreksi aksara, maka peluangnya kecil untuk dimuat. Mengingat redaktur yang
super sibuk tidak akan punya waktu untuk membenahi naskah tersebut.
2.
Judul harus
Menarik
Pertama kali yang dibaca redaktur atas
karya cerpen Anda adalah judul. Karenanya judul harus menarik dan ditulis jelas
dengan menggunakan huruf kapital yang di-bold
hingga redaktur terangsang untuk membaca keseluruhan isi cerpen yang Anda
kirim.
3.
Isi Cerita dan
Ending harus Menarik
Cerpen yang memiliki peluang besar untuk
dimuat di media massa, bila isi cerita dan ending-nya
menarik. Hal lain yang perlu diperhatikan oleh penulis, bahwa cerpen dengan
tema yang sesuai momentum lebih mendapatkan prioritas redaktur untuk dimuatnya.
Karenanya, kirimkan cerpen bertema wanita menjelang peringatan Hari Kartini,
atau bertema perjuangan dan kepahlawanan menjelang peringatan peringatan HUT
Kemerdekaan RI!
4.
Tidak Mengandung
Unsur SARA dan Pornografi
Hendaklah Anda tidak mengirimkan cerpen
yang mengandung unsur SARA dan pornografi. Sekalipun bagus, namun cerpen Anda
tidak akan dimuat oleh redaktur sastra di media massa. Sebab bila dimuat,
cerpen Anda akan menimbulkan gejolak di masyarakat.
5.
Menyesuaikan Ketetapan
Redaktur
Masing-masing redaktur sastra media
massa memiliki ketetapan berbeda atas jumlah halaman dalam penulisan cerpen.
Sebagai misal, redaktur media massa A hanya memuat cerpen yang ditulis dengan
jumlah maksimal 4 halaman kwarto spasi ganda. Sementara redaktur media massa B bersedia
memuat karya cerpen yang ditulis dengan jumlah maksimal 6 halaman kwarto spasi
ganda. Dari sini, maka jangan mengirim cerpen yang ditulis dengan jumlah 6
halaman ke media massa A, karena tidak memiliki peluang untuk dimuat. Sebaiknya
Anda mengirim cerpen itu ke media massa B. Di sana, cerpen Anda memiliki
peluang untuk dimuat.
6.
Mengirim
Intensif hingga Redaktur Mengenal Anda
Sebelum cerpen dimuat di media massa
tertentu, jangan putus asa untuk terus mengirimkannya. Kirimkan cerpen Anda
seminggu sekali, hingga redaktur mengenal nama dan karya Anda. Sesudah
mengetahui kualitas karya-karya cerpen Anda, maka redaktur pasti memuatnya.
7.
Jangan Mengirim
Cerpen Baru sesudah Cerpen Lama Dimuat
Sesudah cerpen yang lama berhasil dimuat
di media massa tertentu, jangan cepat-cepat mengirim cerpen baru. Kirimkan
cerpen baru sesudah 2-3 bulan pemuatan cerpen lama. Karena dalam waktu 2-3
tersebut, redaktur akan memuat cerpen dari penulis lain yang sudah lama
mengantri.
KIAT MENULIS CERPEN
7 LANGKAH KIAT MENCIPTA CERPEN
Oleh: Sri Wintala Achmad
Berdasarkan
pendapat umum yang bersumber dari para cerpenis bahwa menulis cerpen mudah,
asal calon penulis cerpen mengetahui caranya. Adapun cara umum yang digunakan
dalam menulis cerpen adalah sebagai berikut:
1.
Mendapatkan Ide
Tanpa ide, Anda tidak dapat menulis
cerpen. Karenanya sebelum menulis cerpen, dapatkan terlebih dahulu ide yang
baru dan unik. Untuk mendapatkan ide yang baru dan unik; Anda harus membaca
banyak buku dan geliat alam, melakukan observasi atau riset, serta banyak
mendengar cerita orang lain ketimbang
bercerita pada orang lain secara lisan.
2.
Jangan Menulis
Judul Sebelum Cerpen Usai Dituliskan
Menulis judul sebelum cerpen usai
dituliskan ibarat membatasi ruang gerak penulis di dalam mengembangkan isi
cerita dalam cerpen. Kalau hal itu tetap dilakukan, maka cerpen yang Anda
ciptakan akan terasa hambar, kaku, dan tidak menarik untuk dibaca.
3.
Menentukan
Bentuk Penulisan Cerpen
Sebelum Anda menulis alenia pertama,
tentukan terlebih dahulu bentuk cerpen yang akan ditulis. Bentuk penulisan
cerpen hanya dengan narasi semata, kombinasi narasi dan dialog, atau dialog
semata.
4.
Memberikan
Kemerdekaan Imaji selama Proses Penulisan
Selama proses penulisan cerpen, berikan
kemerdekaan imaji Anda untuk bermain-main. Namun satu hal yang tidak diabaikan,
bahwa Anda tetap fokus di dalam mengatur alur cerita yang runtut. Di samping
itu, Anda tetap memperhatikan unsur konflik dan penyelesaiannya yang cerdas,
hingga cerpen memiliki daya tarik bagi pembaca.
5.
Membuat Ending
yang Menarik
Hal paling sulit dalam penciptaan cerpan
adalah membuat ending (baik sad ending atau happy ending) yang menarik. Ending
yang memberikan ruang kontemplasi pembaca atas isi cerita. Hal lain yang layak
dipahami oleh penulis cerpen, bahwa pembaca lebih berminat pada ending menggantung. Ending yang tidak memberikan kesimpulan atas isi cerita dalam
cerpen. Ending yang merangsang
pembaca untuk mendapatkan pesan inti yang disampaikan oleh penulis cerpen
melalui karyanya.
6.
Membubuhkan
Tempat dan Titi Mangsa
Seusai cerpen diciptakan, bubuhkan
tempat dan titi mangsa di bawah karya cerpen tersebut. Hal ini penting bagi
pembaca yang ingin tahu tentang di mana dan kapan karya cerpen itu ditulis.
7.
Menyunting dan
Mengoreksi Aksara
Sesudah cerpen selesai diciptakan dan
lengkap dengan judulnya yang memikat, lakukan penyegaran otak (pengendapan) terlebih dahulu. Sesudah
pikiran kembali segar, lakukan penyuntingan dan pengoreksian aksara. Hal ini
penting dilakukan. Agar cerpen yang digubah benar-benar bernas. Kental isinya,
alur ceritanya lancar, konflik dan ending-nya
memikat, serta terlepas dari salah tulis huruf dalam kata dan tanda baca.
TIPS MENEMBUS MEDIA MASSA
TIPS
MENEMBUS MEDIA MASSA
Oleh Sri Wintala Achmad
TIDAK ada penulis yang tidak merasa bahagia bila tulisannya dipublikasikan
oleh media massa atau penerbit. Karena dengan dipublikasikannya tulisan itu,
seorang penulis tidak hanya akan dikukuhkan eksistensinya sebagai penulis, namun
pula mendapatkan honorarium dari media massa atau penerbit.
Kebahagiaan lain yang diperoleh, seorang penulis yang karya-karyanya
sering menghiasi media massa dan diterbitkan oleh penerbit akan dikenal oleh
publik. Akan tetapi, kebahagiaan seorang penulis yang tiada duanya, apabila
karya-karyanya dibaca oleh banyak orang atau dijadikan bahan kajian ilmiah oleh
para insan akademis (dosen, mahasiswa, dan pelajar).
Namun untuk mendapatkan kebahagiaan karena tulisannya berhasil tembus di
media massa atau penerbit itu tidaklah mudah. Pengertian lain, seorang penulis
harus mengetahui dan melaksanakan tips yang dianjurkan oleh para penulis
senior. Para penulis yang telah banyak makan asam garam serta telah mengetahui
kuncinya agar karya-karya yang mereka ciptakan dapat dimuat di media massa atau
diterbitkan dalam bentuk buku oleh penerbit.
A. Terus Menulis dan Tidak Bosan Mengirimkan Karya
Hanya
omong besar, seorang yang mengatakan kalau ia sekali
menulis dan mengirimkan karyanya ke media massa atau penerbit, langsung dipublikasikan. Tapi seorang akan dianggap waras, bila mengatakan bahwa penulis yang
karya-karya berhasil tembus di media massa atau penerbit itu sudah melalui suatu
proses yang lama. Proses terus menulis setiap hari dan berusaha keras untuk selalu
meningkatkan kualitas karya-karyanya, serta tidak pernah mengenal putus asa
untuk mengirimkan karya-karyanya itu ke media massa atau penerbit.
Apabila Anda sudah menyerah sebelum karya-karya yang diciptakan berhasil
menghiasi halaman media massa atau diterbitkan oleh penerbit, maka hal itu
adalah kebodohan. Diangap kebodohan, karena Anda telah menyia-nyiakan waktu
selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun menulis dan mengirimkan
karya-karya tersebut ke media massa atau penerbit tanpa ada hasil sama sekali.
Untuk itu, belajarlah kepada para senior yang mengawali proses kepenulisannya
dengan berdarah-darah. Mereka terus menulis dan berusaha meningkatkan kualitas
karya-karyanya dan tidak pernah bosan untuk mengirimkan karya-karyanya di media
massa atau penerbit dalam waktu yang relatif lama. Mereka membutuhkan waktu
berbulan-bulan dan bahkan lebih setahun untuk dapat menggoalkan karya-karyanya
di media massa atau penerbit.
Singkat kata, jangan berhenti menulis dan mengirimkan karya-karyanya
sebelum berhasil menembus media massa atau penerbit. Karena sekali karya Anda
dimuat, Anda akan mendapatkan kebahagiaan luar biasa yang tidak akan pernah
terlupakan sepanjang hidup. Namun sesudah karya Anda dimuat atau diterbitkan di
media massa atau penerbit tertentu, hendaklah Anda terus menulis dan
meningkatkan kualitas karya. Karena pintu keberhasilan Anda sebagai penulis
profesional sudah mulai terbuka.
B. Mengirim Karya ke Media Massa dan Penerbit Lain
Bila
karya tulis Anda sudah berhasil dimuat di media massa atau diterbitkan oleh
penerbit tertentu, maka jangan cepat puas. Berusahalah untuk
mengirimkan karya-karya Anda ke media massa atau penerbit lain. Hal ini
penting, agar karya-karya Anda dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. Untuk
dapat mengirimkan karya-karya ke media massa atau penerbit lain, Anda harus
mengetahui alamat email editor dari seluruh media massa atau penerbit yang ada
di Indonesia. Berikut adalah daftar alamat email dari sebagian besar media
massa dan penerbit di Indonesia yang dapat Anda jadikan sebagai tujuan
pengiriman karya-karya Anda:
1.
Alamat Email
Media Massa Indonesia
-
Bali
Pos: balipostcerpen@yahoo.com, redaksi@balipost.co.id. Khusus
puisi: kirim via pos ke alamat: Umbu
Landu Paranggi, Jln. Kepundung 67A Denpasar-Bali.
-
Buletin
kakawin : buletinkakawin@gmail.com
2.
Alamat Email
Penerbit Indonesa
-
Afra
Publishing: Indiva-mediakreasi@yahoo.com
C. Menjalin Silaturahmi dan Komunikasi dengan Editor
Seorang penulis hendaklah tidak hanya mengurung diri di dalam ruang
kerjanya untuk menulis dan terus menulis. Setiap ada kesempatan, Anda perlu
menjalin tali silaturahmi dan komunikasi dengan editor media massa atau
penerbit. Berdasarkan pengalaman penulis, bahwa keuntungan dari menjalin tali silaturahmi
dan komunikasi yang intensif dengan editor dapat disebutkan sebagai berikut:
1.
Mengetahui
secara langsung tentang persyaratan naskah-naskah yang dibutuhkan oleh media
massa dan penerbit tertentu.
2.
Mendapatkan
informai tentang naskah-naskah yang sedang nge-trend di pasaran.
3. Naskah
Anda akan lebih mendapatkan prioritas untuk dicermati oleh editor sebelum
ditolak atau dimuat (diterbitkan).
4. Suatu
saat, Anda justru akan ditawari oleh editor untuk mengirimkan karyanya yang
tengah dibutuhkan oleh media massa atau penerbit.
Subscribe to:
Comments (Atom)





